Modernisasi Jadi Kunci Industri Perbankan Indonesia Hadapi Era Baru Digital

By: Zakaria Lim, Country Manager - Indonesia, Temenos

Post Meta

Gambar 1: Temenos menjadi tuan rumah bagi lebih dari 120 eksekutif perbankan dari 57 bank di seluruh komunitas perbankan di Indonesia.

Poin-Poin Penting:

1. Modernisasi perbankan kini menjadi kebutuhan strategis:

Bank-bank di Indonesia dan di seluruh Asia Pasifik tidak dapat lagi mengandalkan sistem lama. Meningkatnya ekspektasi digital, persaingan fintech, dan kebutuhan akan inovasi yang lebih cepat berarti bank harus mengadopsi fondasi teknologi modern untuk tetap kompetitif dan memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik.

2. Industri ini bergeser menuju “Intelligence Banking” yang digerakkan oleh AI:

Komputasi awan dan AI menjadi inti dari operasi perbankan—bukan hanya sebagai tambahan. Bank semakin banyak menyematkan AI ke dalam sistem mereka untuk meningkatkan pengambilan keputusan, mengotomatiskan proses, meningkatkan deteksi penipuan, dan memberikan layanan yang lebih personal.

3. Keberhasilan bergantung pada modernisasi bertahap dan kolaborasi ekosistem:

Bank mulai mengadopsi pendekatan berbasis cloud dan komposit untuk melakukan modernisasi secara progresif dengan risiko yang lebih rendah. Namun, transformasi bukan hanya tentang teknologi—ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara bank, penyedia teknologi, dan mitra untuk membangun ekosistem perbankan yang gesit, terukur, dan siap menghadapi masa depan.

Jakarta – Industri perbankan di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, tengah memasuki fase transformasi yang semakin cepat. Peningkatan ekspektasi nasabah terhadap layanan digital, munculnya pemain fintech, serta kebutuhan untuk mempercepat inovasi menjadikan modernisasi teknologi sebagai agenda strategis bagi institusi keuangan. Head of Existing Business APAC Temenos, Swapnil Deshmukh, menegaskan bahwa lembaga keuangan tidak lagi dapat mengandalkan sistem perbankan tradisional untuk menghadapi tantangan saat ini. Bank membutuhkan fondasi teknologi yang mampu mendukung inovasi, mempercepat peluncuran layanan baru, serta meningkatkan pengalaman nasabah secara berkelanjutan.

Menurutnya, Temenos berkomitmen membantu bank, perusahaan pembiayaan, dan institusi keuangan lainnya melakukan modernisasi agar dapat beroperasi lebih efisien sekaligus menghadirkan layanan yang lebih baik. Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, Temenos saat ini telah melayani institusi keuangan di lebih dari 150 negara.

“Skala transformasi di Asia Pasifik mencerminkan meningkatnya kebutuhan industri terhadap modernisasi sistem perbankan. Dalam setahun terakhir, Temenos telah menyelesaikan sejumlah proyek transformasi besar yang kini telah beroperasi secara penuh,” ujar Swapnil dalam acara Temenos Connect di Jakarta.

Indonesia sendiri menjadi salah satu pasar strategis bagi Temenos di kawasan. Beberapa bank nasional telah memanfaatkan platform ini untuk mendukung operasional dan pengembangan bisnis jangka panjang, di antaranya BRI, BSI, dan Bank Saqu.

Swapnil menilai besarnya populasi, pertumbuhan ekonomi digital, serta tingginya adopsi teknologi menjadikan Indonesia sebagai pasar yang sangat menjanjikan bagi transformasi perbankan.

Modernisasi Semakin Cepat dan Terukur

Salah satu contoh transformasi di kawasan adalah migrasi sistem yang dilakukan oleh LPBank di Vietnam. Bank dengan sekitar lima juta nasabah tersebut berhasil melakukan migrasi dari sistem legacy ke platform Temenos dalam waktu sekitar lima setengah bulan.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa modernisasi core banking kini dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan sebelumnya, berkat kematangan teknologi, metodologi implementasi yang semakin teruji, dan dukungan ekosistem mitra yang kuat.

Selain core banking, Temenos juga melihat peluang besar pada segmen wealth management dan corporate banking. Solusi wealth management-nya telah digunakan oleh sejumlah bank global, termasuk ABN AMRO.

Di sisi lain, salah satu implementasi corporate banking terbesar dilakukan oleh grup perbankan global asal Jepang dengan aset lebih dari US$1 triliun.

“Modernisasi tidak lagi terbatas pada transaksi dasar, tetapi juga mencakup layanan kompleks seperti wealth management, pembiayaan korporasi, dan layanan digital yang semakin personal,” tambahnya.

Peran Cloud dan AI Semakin Dominan

Ke depan, teknologi seperti cloud computing dan kecerdasan buatan (AI) akan memainkan peran penting dalam transformasi industri keuangan. Melalui teknologi ini, bank dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat pengambilan keputusan, serta menghadirkan layanan yang lebih relevan bagi nasabah.

Business Solution Director APAC Temenos, Frankie Wai, menambahkan bahwa industri perbankan kini telah memasuki fase di mana AI bukan lagi sekadar proyek percontohan, melainkan telah menjadi bagian inti dari operasional.

Bank saat ini semakin fokus pada:

  • Percepatan pertumbuhan bisnis
  • Peningkatan pengalaman nasabah
  • Efisiensi operasional
  • Kepatuhan terhadap regulasi

Temenos mendukung modernisasi melalui berbagai model implementasi fleksibel, mulai dari core banking suite hingga pendekatan composable banking, termasuk solusi yang telah dilengkapi kemampuan AI.

Konsep intelligent banking sendiri dibangun melalui integrasi AI secara mendalam ke dalam sistem, bukan hanya sebagai fitur tambahan. Teknologi seperti conversational banking, AI agents operasional, serta solusi pencegahan kejahatan finansial membantu meningkatkan kualitas keputusan, mengurangi risiko fraud, serta mengotomatisasi proses bisnis.

Tantangan dan Pendekatan Modernisasi

Gambar 2: Temenos, Red Hat, dan Systems membahas implikasi AI dan teknologi baru serta bagaimana hal itu memengaruhi Perbankan Cerdas untuk bank-bank di Asia Pasifik..

Dalam diskusi panel, Frankie menyoroti bahwa bank-bank di Asia Tenggara menghadapi kombinasi tantangan, mulai dari percepatan digitalisasi, tuntutan regulasi, hingga keterbatasan sistem legacy.

Karena itu, semakin banyak institusi yang mengadopsi pendekatan cloud-native dan composable banking, yang memungkinkan modernisasi dilakukan secara bertahap dengan risiko lebih rendah.

Pandangan serupa disampaikan oleh Solution Architect Red Hat, Paul Kristandi, yang menekankan pentingnya modernisasi infrastruktur untuk mendukung skalabilitas, ketahanan operasional, dan kebutuhan layanan digital.

Sementara itu, Systems Limited menekankan bahwa keberhasilan intelligent banking bergantung pada integrasi AI langsung ke dalam operasional inti, didukung kolaborasi antara penyedia teknologi, system integrator, dan institusi keuangan.

Kesiapan Bank Indonesia di Level Regional

President Director Fortress Digital Services (FDS), Sutjahyo Budiman, menilai bahwa bank yang ingin bertahan dan berkembang harus membangun fondasi teknologi yang kuat untuk mendukung ekspansi regional.

Ia menyoroti bahwa banyak bank masih bergantung pada sistem lama yang belum dirancang untuk kebutuhan modern seperti:

  • Transaksi real-time.
  • Integrasi API.
  • Adopsi AI.
  • Operasional lintas negara.

“Industri kini bergerak dari digitalisasi menuju pembangunan ekosistem. Kita memasuki era intelligence, di mana AI dan keamanan siber menjadi fondasi utama pertumbuhan,” ujarnya. Namun demikian, baru sebagian kecil institusi yang telah mengintegrasikan AI secara menyeluruh. Mayoritas masih berada pada tahap eksplorasi atau implementasi terbatas.

Transformasi Corporate Lending dan Payment.

Di sektor corporate lending, pertumbuhan kredit, kebutuhan pembiayaan rantai pasok, serta tuntutan layanan yang lebih cepat mendorong perubahan signifikan.

Nasabah korporasi kini menginginkan:

  • Pengalaman digital setara retail banking.
  • Fleksibilitas pembiayaan.
  • Kecepatan pengambilan Keputusan.

Untuk itu, Temenos menghadirkan platform lending terintegrasi yang mendukung konsolidasi data, penyederhanaan operasional, serta keputusan secara real-time.

Sementara di sektor pembayaran, transformasi dipicu oleh berbagai faktor seperti:

  • Migrasi ISO 20022.
  • Instant payments.
  • Open banking.
  • Mata uang digital.
  • Pembayaran lintas negara.

Di Indonesia, inisiatif seperti modernisasi RTGS, SNAP, dan Project Nexus semakin memperkuat arah transformasi sistem pembayaran nasional.

Kolaborasi Jadi Kunci

Gambar 3: Bank Syariah Indonesia & Temenos merayakan bersama keberhasilan peluncuran Temenos oleh BSI di Temenos Connect (Indonesia) 2026.

Sebagai respons terhadap kompleksitas tersebut, Temenos menghadirkan platform pembayaran terpadu yang mendukung berbagai jenis transaksi, manajemen risiko kejahatan keuangan, serta otomatisasi berbasis AI.

Industri perbankan kini memasuki era baru, di mana cloud, AI, composable architecture, dan intelligent banking menjadi penentu daya saing.

Ke depan, keberhasilan transformasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kolaborasi erat antara institusi keuangan, penyedia teknologi, dan mitra implementasi untuk menciptakan ekosistem perbankan yang lebih lincah, tangguh, dan adaptif.

Gambar 4: Country Manager Indonesia Temenos, Zakaria Lim memperkenalkan tim Temenos kepada audiens perbankan di Temenos Connect (Indonesia).

Modernisasi teknologi perbankan di Asia Pasifik, khususnya di Indonesia, sangat penting untuk memenuhi ekspektasi layanan digital. Temenos membantu bank-bank di Indonesia dari KBMI 1 sampai dengan bank KMBI 4 untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi melalui cloud dan AI. Jika Anda tertarik untuk mengeksplorasi inovasi perbankan bersama Temenos, jangan ragu untuk menghubungi tim kami:

Zakaria Lim                                                                             

Country Manager – Indonesia, Temenos                            

Email: [email protected]

Related Posts

  • Por qué el movimiento de dinero se está convirtiendo en un campo de batalla estratégico

    El futuro del movimiento de dinero ya está aquí. Descubre qué está impulsando esta transformación.

  • Five Takeaways from TCF’26

    Payments technologies are evolving at light speed, and so are the forces driving them. But speed alone is no longer enough.